Diam terhadap Kemungkaran: Ketika Iman Diuji dan Nurani Dipertaruhkan

KHUTBAH PAGI, inilah berita – Di tengah maraknya kemungkaran yang terjadi di ruang publik maupun ruang privat, sikap diam kerap dipilih sebagai jalan aman. Alasan klasiknya beragam: takut konflik, menjaga kenyamanan, atau enggan kehilangan posisi dan kepentingan. Namun dalam perspektif Islam, diam terhadap kemungkaran bukanlah sikap netral, melainkan persoalan iman dan tanggung jawab moral.

Al-Qur’an dengan tegas memerintahkan umat Islam untuk aktif menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran. Perintah ini bukan sekadar anjuran, tetapi fondasi bagi tegaknya kehidupan sosial yang bermoral. Ketika perintah tersebut diabaikan, yang lahir bukan kedamaian, melainkan pembiaran yang perlahan menormalisasi keburukan.

Rasulullah ﷺ bahkan menyebut bahwa mengingkari kemungkaran hanya dengan hati adalah selemah-lemahnya iman. Artinya, sikap diam bukanlah bentuk kebijaksanaan, melainkan indikasi kemunduran spiritual. Lebih keras lagi, Al-Qur’an mengisahkan kaum terdahulu yang dilaknat bukan semata karena berbuat maksiat, tetapi karena saling membiarkan kemungkaran terjadi tanpa koreksi.

Ironisnya, di era modern ini, kemungkaran sering dibungkus dengan istilah toleransi, kebebasan, atau hak pribadi. Akibatnya, orang-orang yang berusaha mengingatkan justru dicap kaku, radikal, atau tidak relevan. Sementara mereka yang memilih diam dianggap moderat dan aman. Padahal, dalam Islam, moderasi tidak pernah berarti membungkam kebenaran.

Lebih memprihatinkan lagi ketika orang-orang berilmu ikut memilih diam. Para ulama sejak dahulu mengingatkan bahaya “setan bisu” mereka yang mengetahui kebenaran namun enggan menyampaikannya. Dalam kondisi seperti ini, kemungkaran bukan hanya tumbuh, tetapi menjelma menjadi budaya yang sulit dilawan.

Diam terhadap kemungkaran sejatinya bukan sekadar kegagalan individu, melainkan ancaman kolektif. Islam mengingatkan bahwa azab Allah dapat menimpa suatu kaum secara menyeluruh ketika kemungkaran dibiarkan merajalela tanpa perlawanan moral.

Baca juga  Warga Geram dengan Pernyataan Kadishub Kabupaten Bogor Terkait Truk Tambang

Karena itu, pertanyaannya bukan lagi apakah kita berani bersuara, melainkan sampai kapan kita akan memilih diam. Menyampaikan kebenaran memang berisiko, tetapi diam justru mempertaruhkan iman dan masa depan masyarakat. (MR.MAHMUD)