Setelah Sekian Purnama Bersama, Cinta Nabila dan Rama Bermuara di Pelaminan

SURABAYA, inilah berita – Setelah melewati perjalanan panjang yang dipenuhi cerita, tawa, air mata, suka dan duka, Nabila dan Rama akhirnya tiba di titik yang selama ini mereka nantikan: pelaminan.

Jumat pagi, 28 Agustus 2026, halaman rumah sang ibunda di Jalan Gayungan 1, Surabaya, menjadi saksi sebuah babak baru dalam kehidupan keduanya. Di hadapan penghulu, keluarga, dan orang-orang terdekat, Nabila dan Rama mengikrarkan janji suci untuk menjalani kehidupan sebagai pasangan suami istri.

Pagi itu terasa istimewa. Nabila tampil anggun dalam balutan busana bernuansa putih, sementara Rama terlihat gagah mendampinginya. Keduanya tampak bak raja dan ratu dalam sehari, memancarkan kebahagiaan yang sulit disembunyikan.

Namun, di balik senyum dan kebahagiaan tersebut, tersimpan sebuah kerinduan yang begitu dalam.

Bagi Nabila dan Rama, pernikahan ini bukan sekadar tentang busana pengantin, prosesi akad, maupun kemeriahan sebuah pesta. Hari itu merupakan muara dari perjalanan panjang yang telah mereka lalui bersama.

Ada tawa yang pernah dibagi. Ada air mata yang pernah jatuh. Ada ujian yang harus dilewati. Ada pula harapan yang terus dijaga hingga akhirnya membawa keduanya pada keputusan untuk mengikat cinta dalam sebuah pernikahan.

Nuansa putih yang mendominasi suasana pernikahan seakan menjadi simbol bagi keduanya. Putih melambangkan ketulusan dan kesucian cinta, sekaligus menjadi gambaran sebuah lembaran baru yang kini mereka buka bersama.

Lembaran itu akan mereka isi dengan kesetiaan, kesabaran, pengertian, serta kasih sayang dalam menjalani bahtera rumah tangga.

Di Tengah Bahagia, Ada Rindu kepada Sang Ayah

Namun, bagi Nabila, kebahagiaan di hari istimewa itu terasa belum sepenuhnya lengkap.

Di tengah momen yang begitu sakral, ia hanya didampingi sang ibunda tercinta. Sementara satu sosok yang begitu ingin dilihatnya pada hari bahagia tersebut tak lagi dapat berdiri di sampingnya.

Baca juga  500 Warga Simo Pomahan Baru Meriahkan Jalan Sehat Sambut HUT RI ke-81

Sang ayah, Agung Setiawan, yang lebih akrab disapa Gus Wawan, telah lebih dahulu berpulang.

Ia tak dapat menyaksikan secara langsung putrinya mengenakan busana pengantin, mengucapkan janji suci, dan memulai kehidupan baru bersama lelaki pilihannya.

Ada satu tempat yang mungkin terasa lebih sunyi dari yang lain.

Ada satu sosok yang mungkin paling ingin dilihat Nabila pada pagi itu.

Dan ada satu doa yang barangkali paling ingin ia dengar secara langsung dari sang ayah:

Restu.

Ketiadaan Gus Wawan membuat kebahagiaan Nabila bercampur dengan rasa kehilangan. Di hari ketika seorang anak perempuan biasanya berharap mendapatkan doa, pelukan, dan restu dari kedua orang tuanya, Nabila harus menerima kenyataan bahwa sang ayah hanya dapat hadir melalui kenangan.

Barangkali, di balik setiap senyum yang ia hadirkan hari itu, terselip kerinduan kepada sosok ayah yang begitu dicintainya.

Namun, kehidupan harus terus berjalan.

Nabila memilih tetap tegar menjalani hari bahagianya. Di sisinya ada sang ibunda, sosok yang menjadi tempat bersandar sekaligus sumber kekuatan ketika rasa haru datang menyergap.

Meski Gus Wawan tak lagi hadir secara kasatmata, kasih sayang seorang ayah diyakini akan selalu hidup di dalam hati seorang anak.

Sebab, cinta seorang ayah tidak serta-merta berakhir ketika kehidupan di dunia berhenti. Ia dapat terus hidup dalam kenangan, nasihat, doa, dan nilai-nilai yang diwariskan kepada anak-anaknya.

Cinta yang Akhirnya Bermuara

Pada akhirnya, cinta selalu menemukan jalannya.

Setelah sekian purnama dilalui bersama, perjalanan cinta Nabila dan Rama akhirnya bermuara di pelaminan.

Hari ini menjadi awal dari perjalanan baru. Bukan lagi sekadar dua insan yang saling mencintai, melainkan dua manusia yang memilih untuk berjalan berdampingan dalam satu ikatan suci.

Baca juga  Hari ke -10 Tim DVI Polda Jatim Berhasil Identifikasi 15 Jenazah Korban KMP Tunu Pratama

Mereka membawa seluruh kenangan masa lalu sebagai bekal, sekaligus menggenggam harapan untuk masa depan.

Semoga rumah tangga yang dibangun Nabila dan Rama menjadi tempat tumbuhnya cinta, kesetiaan, kesabaran, dan kasih sayang.

Semoga setiap langkah keduanya senantiasa dipenuhi kebahagiaan, ketenteraman, rezeki, dan keberkahan.

Dan untuk Gus Wawan, mungkin ada doa sederhana yang tersimpan jauh di dalam hati seorang anak kepada ayahnya:

“Ayah, hari ini aku menikah. Andai Ayah masih ada, mungkin Ayah menjadi salah satu orang yang paling bahagia melihatku. Doakan aku dari tempat terbaik di sisi-Nya.”_

Selamat menempuh hidup baru, Nabila dan Rama.

Semoga Allah SWT menjadikan kalian pasangan yang sakinah, mawaddah, warahmah, memberikan keteguhan dalam menjalani bahtera rumah tangga, melimpahkan rezeki dan keberkahan, serta menganugerahkan keturunan yang saleh dan salehah.

Redaksi InilahBerita.net turut mengucapkan selamat atas pernikahan Nabila dan Rama.

Semoga cinta yang hari ini dipersatukan dalam ikatan suci menjadi cinta yang terus tumbuh, semakin kuat dalam suka maupun duka, hingga akhir hayat. (Mr. Mahmud)