Kartu Aksara Jawa Membangun Pemahaman Akar Budaya Bangsa

SURABAYA| Pelestarian dan penguatan warisan budaya Nusantara di Jawa Timur terus bergulir. Ini setelah dilaunchingnya peredaran kartu Aksara Jawa yang di gelar Paguyuban Budaya Jawa di depan gedung Prabangkara halaman Taman Budaya Jawa Timur, Kamis, (23/7/26).

Ketua Komisi E DPRD Jatim, Sri Untari Bisowarno memberikan sambutan didampingi seniman dan budayawan Jatim. dilaunchingnya kartu Aksara Jawa di depan gedung Prabangkara halaman Taman Budaya Jawa Timur, Kamis, (23/7/26).

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Komisi E DPRD Jatim, Sri Untari Bisowarno  menandai diedarkannya kartu aksara Jawa yang diciptakan seniman dan Budayawan Jawa Timur Taufik Monyong yang juga ketua paguyuban budaya Jawa.

Sri Untari menegaskan bangsa besar tak boleh kehilangan identitas. Baginya, pembelajaran Aksara Jawa tidak sekadar mengajarkan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga membangun karakter generasi muda melalui pemahaman terhadap akar budaya bangsa.

Politisi PDI Perjuangan ini menilai negara-negara maju mampu mempertahankan identitasnya karena tetap menjaga sistem aksara mereka, seperti Jepang dengan Kanji maupun Rusia dengan huruf Sirilik.

Indonesia, khususnya Jawa Timur, lanjut Sri Untari juga memiliki kekayaan budaya yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Huruf Jawa itu bukan sekadar huruf biasa, tetapi Carakan yang pernah digunakan di berbagai wilayah Nusantara pada masa kejayaan Majapahit. Di dalam setiap aksara terdapat filosofi kehidupan yang menjadi bagian dari jati diri bangsa. Itu yang ingin kita hidupkan kembali agar tidak hilang ditelan zaman,” tegasnya.

Untuk itu, Ia menegaskan bahwa dengan terbitnya kartu aksara Jawa ini bisa mejadi media pembelajaran bagi siswa-siswi SD/SMP hingga SMA sederajat ini merupakan upaya untuk mengembalikan lagi aksaran Jawa ke lingkungan pendidikan, agar nantinya aksara Jawa kembali eksis di nusantara ini sebagai aksara yang menjadi acuan untuk pengantar bahasa resmi maupun bahasa sehari-hari.

Baca juga  Polisi Selidiki Pabrik Tekstil di Cikancung Bandung Yang Terbakar

Sementara itu, seniman sekaligus budayawan Jawa Timur, Taufik Monyong, mengungkapkan bahwa kartu Aksara Jawa ini merupakan hasil riset lebih dari lima tahun.

“Inovasi itu lahir dari keinginan menghadirkan media pembelajaran berbasis budaya lokal yang mampu bersaing dengan permainan modern,” tuturnya.

Berbeda dengan kartu remi yang hanya terdiri dari 56 kartu, Kartu Aksara Jawa ini, lanjut Taufik, memiliki 94 kartu yang memuat unsur Aksara, Wilangan (bilangan), hingga filosofi tokoh pewayangan seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.

“Permainan tersebut dapat digunakan dalam delapan model pembelajaran, mulai dari edukasi dasar hingga pengenalan nilai-nilai budaya Jawa,” jelasnya.

Peluncuran kartu aksara Jawa ini, berlangsung dalam suasana khidmad dan sakral.  Selain aroma dupa dan lantunan tembang Asmaradhana, pembacaan doa pun dilakukan dengan bahasa Jawa. Selain itu adanya etalase yang memajang keris dan pin Majapahit semakin menambah kentalnya budaya Jawa dalam peluncuran kartu aksara Jawa ini.@bongky handoyo